7/15/2011

Bianglala; renungan personal

Aku berjalan mengelilingi taman.
Langit kembali terang.
Aku masih disana. Melakukan hal yang sama.
Langit kembali gelap.

Lampu-lampu taman bernyanyi..
“everything will flow”

Pagi menjelang. Matahari kembali bersinar.
Langkahku mulai sedikit melemah.
Disini, ditempatku memulainya.

Ahh, aku tidak sendiri.
Mereka melakukan hal yang sama.
Seorang pria berkulit cokelat bahkan sambil memanggul sebuah batu besar.
Tapi langkahnya ringan.
Kakinya menari-nari di udara.

Lihat..aku tidak sendiri..
Perempuan cantik itu pun sama saja.
Wajahnya lesu, ada bekas air mata yang mengering di pipinya.
“aku lelah” teriaknya..

Anak muda di depanku mengeluh.
“Kenapa?” Tanyanya.
Tiada yang menjawab.
Bahkan semua seakan tidak mendengar.
Mungkin Tuhan pun tidak.

Tiada yang membuat kami berhenti.
Tiada satu kondisipun yang membuatnya.
Semua seakan seperti ini.
Seperti bumi yang berputar.
Seperti planet yang berporos pada matahari.
Seperti apa yang aku lakukan saat ini. Kemarin dan esok.

7/12/2011

Suatu Masa Diantara Berjuta Cerita

Langit berwarna merah, burung-burung berenang mengejar helicopter yang sedang berlayar di samudera hindia. Matahari berwarna hijau, hijau yang berpijar-pijar. Anak kecil itu tidak menghiraukan peringatan ayahnya untuk tidak terbang mendekati matahari. Dia melayang-layang, menyelinap diantara hiu bermata tajam yang siap menikam gajah yang tengah berlari mengejar segerombolan kuda. Manusia bergerumul di tengah pasar, menjilati lalat-lalat hijau yang hinggap diatas bangkai tikus, mereka telanjang! Kita hidup dalam dunia tanpa baju…salah seorang manusia dengan rantai dilehernya menari-nari mengikuti irama gendang. Sepasang kekasih berciuman di sisi jalan, dan pasangan lainnya bercinta di sisi jalan lainnya, desahannya terbawa oleh angin, bergabung dengan desahan pasangan lainnya, dan terdengar merdu.

Terdengar teriakan dari salah seorang renta, lalu hilang seketika, dan seekor harimau berjalan di depanku, mulutnya penuh dengan darah, dan seekor serigala segera berlari kearah teriakan si renta tadi, lalu berjalan santai di depanku, dengan mulut penuh darah pula. Tiada yang peduli, hingga menyisakan tulang si renta, dan beberapa orang mendatangi, mengumpulkan sisa tulang-tulangnya, lalu menguburkannya, setelah tidak lagi dijumpai lalat-lalat hijau yang mengerubungi. Si peminum anggur berbaring di depan teras rumahnya, tersenyum dan menyapa orang yang melewatinya. Si pemburu, membawa hasil buruannya, dan meletakkan hasil buruannya di tengah pasar, lalu pulang dengan membawa satu buah kaki babi hasil buruannya tadi.

Seorang anak kecil terjatuh dari balik awan, lalu mati, ayahnya yang tadi memperingati untuk tidak terbang mendekati matahari menghampiri jasad anak satu-satunya. Menguburkannya, dan bilatung-bilatung berwarna biru keluar dari sela-sela tanah, menghampiri dan menyantap jasad anak kecil tersebut.

Seekor singa mendekati ayah si anak kecil, lalu bertanya, “kenapa kau tidak memberikan jasad anak semata wayangmu kepadaku, aku dan beberapa temanku lapar?”

“maaf, mungkin saat ini giliran para bilatung berkulit biru untuk mendapatkan makanannya, dan bukan karena aku tidak tega melihat jasad anakku dikoyak-koyak oleh gigi runcingmu.”

Singa itu memahami maksud dari perkataan ayah si anak kecil, lalu kembali bertanya, “apakah kamu tidak menyesali, bersedih, menyalahkan, atas apa yang menimpa anak kesayanganmu?”

Dengan tersenyum dia menjawab, “tidak”

Lalu singa itu kembali berkata, “aku lapar, dan aku hanya mendapati kau disini.”

Diatas rerumputan berwarna pink, dia menjawab dengan sedikit menyiapkan langkahnya,“silahkan, kita sama-sama membutuhkan makan.”